Senin, 26 Agustus 2019

Analisis Struktural Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis


Berikut merupakan analisis struktural novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis :
1.Tema
            Novel Salah Asuhan memiliki tema pertentangan antara kultur budaya Barat dan Timur. Hal ini dibuktikan dengan ayah Corrie Tuan du Bussee yang melarang hubungan Corrie dengan Hanafi karena berbeda latar belakang Melayu dan Barat.
2.   Penokohan
A. Tokoh
1.Hanafi
2.Corrie du Bussee
3.Rapiah
4.Ibu Hanafi (Mariam)
5.Ayah Corrie (Tuan du Bussee)
6.Syafei
B.Watak tokoh
1.Hanafi : Seorang pemuda bumiputera Solok terpelajar yang berwatak keras, sombong, emosional dan durhaka terhadap ibunya.Dia memiliki wajah yang mirip dengan orang Belanda, perilakunya juga mencerminkan  orang Belanda yang selalu menghina orang Bumiputeranya sendiri.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan: “Aku tahu betul,bahwa aku hanyalah Bumiputra saja,Corrie! Jangalah kau ulang-ulang juga”(Salah Asuhan:3)
“Memang….kasihan! Ah ibuku…aku pengecut tapi hidupku kosong…habis cita-cita baik…enyah!.” (Salah Asuhan:259)
“ Hai Buyung! Antarkan anak itu dahulu kebelakang!” kata Hanafi dengan suara bengis dari jauh.” (Salah Asuhan:80)
2.Corrie du Bussee: Seorang gadis Belanda yang awalnya tinggal bersama ayahnya di Solok. Corrie memiliki paras yang cantik, berasal dari kelas atas dan terpelajar. Dia juga memiliki sikap yang sopan, ramah, kuat menghadapi Hanafi,walaupun sedikit keras dan manja.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan: “…Corrie menolaknya dengan senyum manis…”(Salah Asuhan:13)
“O, sigaret tante boleh habiskan satu dos. Sudah tentu enak, ayoh coba!” (Salah Asuhan:64).
“Oh, ruangan di jantung tuan Hanafi amat luas,” kata Corrie sambil tertawa, “buat dua tiga orang perempuan saja masih berlapang-lapang.” (Salah Asuhan:7)
3.Rapiah : Seorang gadis desa Bumiputera Solok yang dinikahi oleh Hanafi untuk pertama kalinya.Rapiah berwatak sabar, dan setia mendampingi suaminya yang berwatak keras dan tidak suka padanya.Rapiah termasuk istri yang baik walaupun ia memiliki rasa malu yang tinggi.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan: “…suaminya itu sungguh-sungguh sudah dipandangnya sebagai junjungan…”(Salah Asuhan:77)
“Rapiah tunduk, tidak menyahut, airmatanya saja berhamburan. Syafei, dalam dukungan ibunya yang tadinya menangis keras, lalu mengganti tangisnya dengan beriba-iba. Seakan-akan tahulah anak kecil itu, bahwa ibunya yang tdak berdaya, sedang menempuh azab dunia dan menanggung aib di muka-muka orang.” (Salah Asuhan:83)
“Apakah ayahmu orang baik? Uah sungguh-sungguh orang baik. Kata ibuku tidak adalah orang yang sebaik ayahku itu.” (Salah Asuhan:238).
4.Ibu Hanafi ( Mariam) : Seorang ibu yang rela berjuang demi hidup anaknya.Ia berusaha memenuhi semua biaya pendidikan anaknya.Buk Mariam selalu sabar dalam menghadapi anaknya yang durhaka.Namun, Ibu Hanafi adalah ibu yang pemaaf. Dia tetap memaafkan semua kesalahan Hanafi, yang telah durhaka padanya.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan: “…Demikian juga ibunya,hanya suka menahan sakit senangnya di rumah Hanafi,karena kasih kepada anak yang hanya seorang itu saja…”(Salah Asuhan:26)
“Astagfirullah, Hanafi! Turutilah ibumu mengucap menyebut nama Allah bagimu dan tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu tersesatnya” (Salah Asuhan:85).
“Sekarang sudah setengah tujuh, sudah jauh terlampau waktu berbuka, Piah! Sebaik-baiknya hendaklah engkau pergi makan dahulu.” (Salah Asuhan:119).
5.Ayah Corrie ( Tuan du Bussee) : Ayah Corrie memiliki sikap yang sopan, ramah terhadap semua orang,tegas dan menghormati budaya orang Timur walaupun ia orang Barat.Namun dia selalu mengucilkan diri dari masyarakat setempat.Ayah Corrie kemudian meninggal pada saat Corrie di Betawi.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…ia tak hendak meniggalkan kuburan istrinya yang amat dicintainyaitu,sedang di Solok hatinya sudah lekat,karena negeri istrinya…”(Salah Asuhan:11)
“Tapi Corrie mesti bersekolah yang sepatut-patutnya” (Salah Asuhan:10).
6.Syafei : Anak Hanafi dengan Rapiah. Syafei adalah anak yang masih lugu.Dia tidak tahu apa-apa mengenai ayah dan ibunya.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…jangankan teduh,makin keraslah jerit Syafei…”(Salah Asuhan:85)

C.Teknik Penokohan
            Pertama, cara analitik, yaitu pengarang dengan kisahnya menjelaskan tokoh. Cara kedua adalah dramatik, yakni apa dan siapa tokoh itu tidak dikisahkan pengarang secara langsung, tetapi melalui hal-hal lain. Cara ketiga merupakan cara yang unik. Hal ini terlihat dalam Salah Asuhan, yaitu digunakan cara analitik yang panjang kemudian ditutup dengan dua-tiga kalimat cara-cara dramatik, dan cara dramatik yang panjang disudahi dengan dua-tiga kalimat cara analitik.

3.Latar(Setting)
            a.Latar Tempat
1) Lapangan tennis.
“Tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon kelepa disekitarnya, masih sunyi” (Salah Asuhan:1).
2) Minangkabau
“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal di kampung saja, tapi sebabkasihan kepada anak, ditinggalkannyalah rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia bersama-sama dengan Hanafi di Solok.” (Salah Asuhan:23).
“Maka tiadalah ia segan-segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya.” (Salah Asuhan:23).
3) Betawi
     “Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi”( Salah Asuhan:23).
“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah Jakarta, Corrie!” (Salah Asuhan:103).
4) Semarang
“Pada keesokan harinya Hanafi sudah datang pula ke rumah tumpangan itu, dan bukan buatan sedih hatinya, demikian mendengar bahwa Corrie sudah berangkat. Seketika itu ia berkata hendak menurutkan ke Semarang.” (Salah Asuhan:186)
5) Surabaya
“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu pension kecil,mengaku nama Tuan dan Nona Han.” (Salah Asuhan:144).

b.Latar Waktu
Cerita Salah Asuhan terjadi pada masa banyak orang Belanda berada di Indonesia.
c.Latar Suasana       
 Pada novel ini, banyak cerita yang bersuasanakan tegang, mengharukan, dan menyedihkan.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…Rapiah tidak kuat menahan airmata yang sudah tergenang pula,lalu dibiarkannya mencucur sepuas-puasya…”(Salah Asuhan:139)
4.Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga dengan posisi pengarang sebagai pencerita yang mengetahui segalanya.Sudut pandang orang ketiga dapat ditandai dengan pemakaian “dia”.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…asal ia memegang senapan repetirnya…”(Salah Asuhan:10)
5.Alur (Plot)
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Pengarang menceritakan kisah hidup Hanafi mulai ia baru kenal dan bersahabat dengan gadis Eropa sampai ia menikah dengan gadis lain bernama Rapiah yang dijodohkan oleh ibunya.Kemudian ia bercerai dengan Rapiah,dan lalu menikah dengan Corrie si gadis Eropa yang selanjutnya meninggal.Setelah Corrie meninggal,diceritakan juga sampai Hanafi meninggal juga karena bunuh diri.
6.Amanat
a.Belajar terhadap bangsa lain itu bagus, tapi tetap harus memiliki akar yang kuat terhadap kebudayaan bangsa sendiri.
b.Berbaktilah kepada orang tua dan jangan durhaka padanya.
     c. Janganlah melupakan adat istiadat negeri sendiri, jikalau ada adat istiadat dari bangsa lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik kita terima di negeri kita.
d.Jangan memaksakan suatu pernikahan yang tidak pernah diinginkan oleh pengantin tersebut, karena akhirnya akan saling menyiksa keduanya.
7.Nilai dalam Novel
a.Nilai agama
Anak yang durhaka kepada ibunya itu akan berdosa. Jika anak durhaka kepada ibunya, sudah pasti ibu akan mengampuni anaknya.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…segala agama berkata ,bahwa anak yang durhaka kepada itu akan berdosa…”(Salah Asuhan:65)
b.Nilai Budaya
Antara bangsa Barat dan Timur tidak akan pernah bersatu.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan:”…Timur tinggal Timur,Barat tinggal Barat,dan tidaklah keduanya akan menjadi satu…”(Salah Asuhan:23)

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat!

Sumber :
Moeis,Abdul. 1928. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar