Berikut merupakan analisis struktural novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis :
1.Tema
Novel
Salah Asuhan memiliki tema pertentangan antara kultur budaya Barat dan Timur.
Hal ini dibuktikan dengan ayah Corrie Tuan du Bussee yang melarang hubungan
Corrie dengan Hanafi karena berbeda latar belakang Melayu dan Barat.
2. Penokohan
A. Tokoh
1.Hanafi
2.Corrie du Bussee
3.Rapiah
4.Ibu Hanafi (Mariam)
5.Ayah Corrie (Tuan du Bussee)
6.Syafei
B.Watak tokoh
1.Hanafi :
Seorang pemuda bumiputera Solok terpelajar yang berwatak keras, sombong,
emosional dan durhaka terhadap ibunya.Dia memiliki wajah yang mirip dengan
orang Belanda, perilakunya juga mencerminkan
orang Belanda yang selalu menghina orang Bumiputeranya sendiri.
Hal tersebut dibuktikan
pada kutipan: “Aku tahu betul,bahwa aku hanyalah Bumiputra saja,Corrie!
Jangalah kau ulang-ulang juga”(Salah Asuhan:3)
“Memang….kasihan! Ah ibuku…aku pengecut tapi hidupku
kosong…habis cita-cita baik…enyah!.” (Salah Asuhan:259)
“ Hai Buyung! Antarkan anak itu dahulu kebelakang!” kata
Hanafi dengan suara bengis dari jauh.” (Salah Asuhan:80)
2.Corrie du
Bussee: Seorang gadis Belanda yang awalnya tinggal bersama ayahnya di Solok.
Corrie memiliki paras yang cantik, berasal dari kelas atas dan terpelajar. Dia
juga memiliki sikap yang sopan, ramah, kuat menghadapi Hanafi,walaupun sedikit keras
dan manja.
Hal tersebut dibuktikan
pada kutipan: “…Corrie menolaknya dengan senyum manis…”(Salah Asuhan:13)
“O, sigaret tante boleh habiskan satu dos. Sudah tentu
enak, ayoh coba!” (Salah Asuhan:64).
“Oh, ruangan di jantung tuan Hanafi amat luas,” kata Corrie
sambil tertawa, “buat dua tiga orang perempuan saja masih berlapang-lapang.” (Salah
Asuhan:7)
3.Rapiah :
Seorang gadis desa Bumiputera Solok yang dinikahi oleh Hanafi untuk pertama
kalinya.Rapiah berwatak sabar, dan setia mendampingi suaminya yang berwatak
keras dan tidak suka padanya.Rapiah termasuk istri yang baik walaupun ia
memiliki rasa malu yang tinggi.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan: “…suaminya itu sungguh-sungguh sudah dipandangnya
sebagai junjungan…”(Salah Asuhan:77)
“Rapiah tunduk, tidak menyahut, airmatanya saja
berhamburan. Syafei, dalam dukungan ibunya yang tadinya menangis keras, lalu
mengganti tangisnya dengan beriba-iba. Seakan-akan tahulah anak kecil itu,
bahwa ibunya yang tdak berdaya, sedang menempuh azab dunia dan menanggung aib
di muka-muka orang.” (Salah Asuhan:83)
“Apakah ayahmu orang baik? Uah sungguh-sungguh orang
baik. Kata ibuku tidak adalah orang yang sebaik ayahku itu.” (Salah
Asuhan:238).
4.Ibu Hanafi (
Mariam) : Seorang ibu yang rela berjuang demi hidup anaknya.Ia berusaha
memenuhi semua biaya pendidikan anaknya.Buk Mariam selalu sabar dalam
menghadapi anaknya yang durhaka.Namun, Ibu Hanafi adalah ibu yang pemaaf. Dia
tetap memaafkan semua kesalahan Hanafi, yang telah durhaka padanya.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan: “…Demikian juga ibunya,hanya suka menahan sakit
senangnya di rumah Hanafi,karena kasih kepada anak yang hanya seorang itu
saja…”(Salah Asuhan:26)
“Astagfirullah, Hanafi! Turutilah ibumu mengucap menyebut
nama Allah bagimu dan tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu tersesatnya” (Salah
Asuhan:85).
“Sekarang sudah setengah tujuh, sudah jauh terlampau
waktu berbuka, Piah! Sebaik-baiknya hendaklah engkau pergi makan dahulu.” (Salah
Asuhan:119).
5.Ayah Corrie (
Tuan du Bussee) : Ayah Corrie memiliki sikap yang sopan, ramah terhadap semua
orang,tegas dan menghormati budaya orang Timur walaupun ia orang Barat.Namun
dia selalu mengucilkan diri dari masyarakat setempat.Ayah Corrie kemudian
meninggal pada saat Corrie di Betawi.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan:”…ia tak hendak meniggalkan kuburan istrinya yang amat
dicintainyaitu,sedang di Solok hatinya sudah lekat,karena negeri
istrinya…”(Salah Asuhan:11)
“Tapi Corrie mesti bersekolah yang sepatut-patutnya” (Salah
Asuhan:10).
6.Syafei : Anak
Hanafi dengan Rapiah. Syafei adalah anak yang masih lugu.Dia tidak tahu apa-apa
mengenai ayah dan ibunya.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan:”…jangankan teduh,makin keraslah jerit Syafei…”(Salah
Asuhan:85)
C.Teknik Penokohan
Pertama,
cara analitik, yaitu pengarang
dengan kisahnya menjelaskan tokoh. Cara kedua adalah dramatik, yakni apa dan siapa tokoh itu tidak dikisahkan pengarang
secara langsung, tetapi melalui hal-hal lain. Cara ketiga merupakan cara yang unik. Hal ini terlihat dalam
Salah Asuhan, yaitu digunakan cara analitik yang panjang kemudian ditutup
dengan dua-tiga kalimat cara-cara dramatik, dan cara dramatik yang panjang
disudahi dengan dua-tiga kalimat cara analitik.
3.Latar(Setting)
a.Latar
Tempat
1) Lapangan tennis.
“Tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon
kelepa disekitarnya, masih sunyi” (Salah Asuhan:1).
2) Minangkabau
“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal
di kampung saja, tapi sebabkasihan kepada anak, ditinggalkannyalah rumah gedang
di Koto Anau, dan tinggallah ia bersama-sama dengan Hanafi di Solok.” (Salah
Asuhan:23).
“Maka tiadalah ia segan-segan mengeluarkan uang buat
mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya.” (Salah
Asuhan:23).
3) Betawi
“Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi”( Salah
Asuhan:23).
“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah
Jakarta, Corrie!” (Salah Asuhan:103).
4) Semarang
“Pada keesokan harinya Hanafi sudah datang pula ke rumah
tumpangan itu, dan bukan buatan sedih hatinya, demikian mendengar bahwa Corrie
sudah berangkat. Seketika itu ia berkata hendak menurutkan ke Semarang.” (Salah
Asuhan:186)
5) Surabaya
“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu pension
kecil,mengaku nama Tuan dan Nona Han.” (Salah Asuhan:144).
b.Latar Waktu
Cerita Salah
Asuhan terjadi pada masa banyak orang Belanda berada di Indonesia.
c.Latar Suasana
Pada novel ini, banyak cerita yang
bersuasanakan tegang, mengharukan, dan menyedihkan.
Hal
tersebut dibuktikan pada kutipan:”…Rapiah tidak kuat menahan airmata yang sudah
tergenang pula,lalu dibiarkannya mencucur sepuas-puasya…”(Salah Asuhan:139)
4.Sudut Pandang
Sudut
pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga dengan
posisi pengarang sebagai pencerita yang mengetahui segalanya.Sudut pandang
orang ketiga dapat ditandai dengan pemakaian “dia”.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan:”…asal ia memegang senapan repetirnya…”(Salah
Asuhan:10)
5.Alur (Plot)
Alur
yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Pengarang menceritakan kisah
hidup Hanafi mulai ia baru kenal dan bersahabat dengan gadis Eropa sampai ia
menikah dengan gadis lain bernama Rapiah yang dijodohkan oleh ibunya.Kemudian
ia bercerai dengan Rapiah,dan lalu menikah dengan Corrie si gadis Eropa yang
selanjutnya meninggal.Setelah Corrie meninggal,diceritakan juga sampai Hanafi
meninggal juga karena bunuh diri.
6.Amanat
a.Belajar
terhadap bangsa lain itu bagus, tapi tetap harus memiliki akar yang kuat
terhadap kebudayaan bangsa sendiri.
b.Berbaktilah
kepada orang tua dan jangan durhaka padanya.
c. Janganlah melupakan adat istiadat negeri sendiri, jikalau ada
adat istiadat dari bangsa lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai
memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik kita terima di negeri kita.
d.Jangan memaksakan suatu pernikahan yang tidak pernah
diinginkan oleh pengantin tersebut, karena akhirnya akan saling menyiksa
keduanya.
7.Nilai dalam
Novel
a.Nilai agama
Anak yang durhaka kepada ibunya itu akan berdosa. Jika
anak durhaka kepada ibunya, sudah pasti ibu akan mengampuni anaknya.
Hal tersebut
dibuktikan pada kutipan:”…segala agama berkata ,bahwa anak yang durhaka kepada
itu akan berdosa…”(Salah Asuhan:65)
b.Nilai Budaya
Antara bangsa
Barat dan Timur tidak akan pernah bersatu.
Hal tersebut dibuktikan
pada kutipan:”…Timur tinggal Timur,Barat tinggal Barat,dan tidaklah keduanya
akan menjadi satu…”(Salah Asuhan:23)
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat!
Sumber :
Moeis,Abdul. 1928. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar